Raja Ampat
Papua
Berawal dari Garuda Travel Fair yang aku datengin, rencananya mau cari tiket murah ke Sumba. Jujur aja setiap beli tiket murah itu (waktu itu bulan Oktober 2016) aku ga lihat kalender, ga peduli tanggal merah atau hitam aku pakai kata hati aja belinya, April deh 3 - 9. Pas dicheck taunya mahal ke Sumba ditanggal itu. Akhirnya aku iseng bilang, yauda coba Sorong , eh taunya dapet diharga 2,5 juta PP dengan maskapai Garuda. Artinya aku bakal ke Sorong yaitu Raja Ampat di tahun 2017 pada bulan april, seiring berjalannya waktu tiket itu didiemin aja, info info diraja ampat belum dicari juga sampailah akhirnya bulan December mulai browsing dan ternyata mahal banget disananya, MAMPUS. Masak berdua sewa kapal untuk menuju Pulau Wayag 19 juta ( dibagi 2 orang ) Baru kapal aja belum penginapan dan belum diving PUSING , akhirnya browsing lagi dan nanya sana sini mereka bilang emang kalau cuma berdua ya untung-untungan, kalau pas di Homestay itu ada yang mau ke pulau A misalnya, ya bisa samaan, kalau enggak ada ya aku musti bayar sendiri. Oke mulai mules dari December bisa ga jadi  ini ceritanya kalau musti keluarin duit segitu untuk transportasinya menuju Pulau Pulau cantik di Raja Ampat. Tapi emang ada aja ya jalan, tiba - tiba di Instagram ketemu sama Wendra yang punya open trip ke Raja Ampat. Tapi kendalanya ga ada jadwal trip di tanggal kedatangan aku di Sorong. Jadi mulai December aku uda koar koar sana sini nyari orang yang mau ke Raja Ampat, dan akhirnya berangkatlah kita ber 5 dari Bali dan 1 dari Jakarta ke Raja Ampat, buat yang mau tau biayanya berapa baca terus tulisannya supaya mengikuti ceritanya juga, hehe. Kalau berangkat dari jakarta enaknya adalah ga lama transit di Makassar, karena ada batik air yang terbang langsung ke Sorong, bahkan sekarang dari bandar udara Sorong bisa lanjut penerbangan ke Waisai untuk lebih mudah mencapai Raja Ampat. Sedangkan perjalananku cukup lama dan jauh Denpasar - Makassar ( transit 9 jam ) - Sorong - Waisai - Pulau Mensuar . Sesampainya di Bandar udara Sorong kita sudah langsung dijemput oleh tim nya wendra yang arrange trip kita, untuk diantar ke pelabuhan, karena kita mau melanjutkan perjalanan laut via kapal ferry ke waisai kurang lebih 2 jam (maaf kalau salah, jujur saya tidur tiada henti). Tiket ferry sudah diurus oleh tim dan sudah include dalam harga trip. Di waisai kita sempet jalan jalan keliling kota, cobain makan papeda, dan ketemu adik adik papua yang keriting keriting dan bahagia banget pulang sekolah langsung main air di pantai. Papeda, aku pribadi ga terlalu suka haha aneh kayak jelly tapi pakai ikan . Gereja GKI alfa omega waisai, bentuknya kura - kura . Keadaan kota waisai. Pelabuhan Waisai saat menunggu dijemput oleh kapal dari Homestay, disini kita diharuskan membayar biaya masuk ke daerah raja ampat yang dikenal dengan nama Pin Raja Ampat 500.000 ( untuk domestik ) 1.000.000 ( untuk mancanegara ), bisa cash / debit / kartu kredit bayarnya, tersedia mesin EDC di loketnya. Di Waisai inilah kesempatan terakhir kalian yang perlu ke ATM dan ambil cash karena nanti setelah menuju pulau di tempat kita menginap sudah tidak bakal ketemu yang namanya ATM. Berlaku 1 tahun, jadi pin raja ampat itu berupa kartu agak tipis seperti kartu di telephone umum dulu. Sampailah kita di Homestay , kamar nya langsung laut . Bener bener menyatu dengan alam, bahan bangunan homestaynya semua dari alam , yang saya takutkan cuma satu, NYAMUK. Untuk kamarnya dilengkapi dengan kelambu kok dan selamat sampai sekarang tidak kena malaria, Autan yang saya bawa lebih banyak dari sunblock. Kamar aku yang ditengah, seru sekali homestaynya . View dari depan kamar, setiap malam kerjaan kita disini duduk duduk ngobrol, main games, kebetulan signalnya tidak begitu bagus jadi bener - bener liburan tidak main gadget. Listrik menyala dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi, tapi ga berpengaruh juga, karena setiap harinya jadwal kita full. Dari tempat makan kita di Homestay, jadi makan pagi - siang malam sudah include semua dari trip, kita hanya terima beres . Baru sampai di Homestay belum ada 20 menit istirahat sudah langsung diajak ke Pasir Timbul kebetulan lokasinya juga berdekatan dari Homestay, tapi sayang mendung. Keesokan paginya hujan ,  yang bikin deg degan karena kita mau mengarungi lautan dengan perjalanan lama yaitu 3 jam one way untuk menuju ke Pulau Wayag. Mati gaya di kapal semua posisi tidur sudah saya cobain, sepertinya minum antimo supaya tidur pulas merupakan tips menuju wayag haha . Ngobrol juga susah karena kalah sama suara mesin speed boat, dengar lagu di hp juga ga begitu kedengeran. Di suatu pulau untuk melapor sebelum naik ke bukit Wayag, disini saya kaget liat ada ikan hiu (blacktip) seliweran bebas dengan beberapa baby shark dan ikan lainnya. Waktu pertama kali ke Flores saya kagum bisa melihat baby shark dari dekat dan bisa berenang bareng sekarang di Raja Ampat ketakjuban saya adalah lihat blacktip shark dari jarak sedekat ini . Desa Selpele, masih diperjalanan menuju Pulau Wayag, di desa ini kita pertama kali melihat orang-orang mancing hanya dengan tali dan kail (tidak pakai umpan) ikannya sudah banyak ngumpul tinggal ikan mana yang terkena kail saat tali itu ditarik keatas. 3 jam perjalanan akhirnya kita sampai juga di wayag dan ternyata ini dia cara kita naik ke puncak wayag 2, Boat diikat ke batu dan kita mulai memanjat. Batunya seperti batu karang tajem tajem dan curam juga medannya, tapi ga terlalu susah ternyata. Pemandangan cantik, kelihatan gak tajem batunya kayak apa ? disarankan menggunakan sepatu ya kalau mau lebih lagi pakai sarung tangan sekalian hehe.   Akhirnya ini dia icon raja ampat, bisa melihat langsung, oh indahnya Indonesia   Full team diatas puncak wayag 2, teman sd bertemu lagi seru sekali. Turun dari puncak wayag kita makan siang di pantai ini, makan siangnya sudah disiapkan sama orang di homestay dari pagi hari jadi dibawa kesini seperti mau piknik, menunya sudah pasti ikan segar dan sayur-sayuran. Saking jauhnya pulau wayag hari itu kita hanya menghabiskan hari dengan satu tujuan aja, pergi pagi pulang malem. Batu Pensil, pengennya tuh bisa berenang disini karena lautnya tenang dan jernih tapi masalahnya sehabis ini kita masih harus ke tujuan selanjutnya dan masak basah-basahan. DILEMA ! Teluk Kabui, ini lagi lagoonnya super jernih dan lagi lagi pengen berenang tapi ga mau lepek. Sudah sampai di Pianemo, biasanya disebut mini wayag. Nah Open trip wendra juga bisa tuh request kalau ga mau include wayag, harganya jauh lebih murah jadinya, karena pianemo ini ga sejauh wayag. Langsung melirik kelapa muda di pianemo, mantabs ! Kita naik dulu ke puncak pianemo setelah itu baru minum dan makan kelapa . Terima kasih karena dibuatkan tangga yang sangat bagus untuk menuju puncak pianemo tidak sudah dan capek .   Kalau bisa di zoom mungkin kelihatan keringet saya yang berkucuran seperti lagi ngerjain proyek bangunan, panasnya ampun ampunan. Jatuh cinta kesekian kalinya sama Raja Ampat, ini tempat masih sangat sepi dan indah sekali, naik ke puncak wayag ga ada siapapun selain grup kita dan sama saat kita naik ke puncak pianemo juga begitu. Puas melihat pemandangan , puas foto foto. Dari Pianemo kita beranjak ke sebelah yaitu Telaga Bintang Yes memang seperti bintang bentuknya, naiknya ga begitu capek karena batu- batu karangnya sudah di buatkan tapakan semen jadi gampang lah naiknya . Ga kebayang kalau suatu saat Raja Ampat bakal seramai Pulau Komodo, sekarang sih jalan naiknya masih kecil dan super sempit. Sampai ditujuan berikutnya Pulau Arborek, saatnya snorkeling dan melihat ribuan ikan berkumpul. Di pulau ini juga kita bisa beli soft drink dan beer, harga beer bintang kalengan adalah 60.000 permisi itu ikan semua ya spot snorkeling berikutnya adalah Yenbuba Bapak pemandu kita selama di Raja Ampat ngajak kita pagi hari untuk liat dan kasi makan hiu, lokasniya 5 menit jalan kaki dari homestay. Ga kebayang segini banyaknya hiu yang saya liat pagi itu, dan ga cuma hiu aja yang kepermukaan tapi Napoleon dan Lion Fish. Seumur - umur main dilaut saya ga pernah liat ikan-ikan ini semua kalau enggak diving, di Raja Ampat dengan mudahnya mereka semua ada di permukaan laut. Lion Fish cantik tapi berbahaya, kayak kamu ! hehe . Trip yang ditawarkan sama Wendra itu terbilang murah dengan harga 4 juta (exclude tiket pesawat, pin raja ampat, penginapan di sorong). Yang kita dapet uda banyak banget tempatnya terus ini sampai ke Pulau Wayag. Makan, akomodasi, alat snorkeling dan  transportasi menuju semua pulau yang aku ceritain di atas sudah include.    Kapal yang membawa kita keliling raja ampat setiap harinya, spot terakhir snorkeling adalah Frewend. Enggak nyangka akhirnya bisa ke Raja Ampat juga, yang selama ini terkenal mahal banget, kalian kalau mau kesana usahakan beramai join private trip yang isinya kamu dan teman teman dekat kamu, seru banget . Di frewend aku disengat ubur ubur , jadi banyak sekali oleh oleh bekas sengatan di badan terutama bagian kaki aku, oleh oleh dari raja ampat. Penginapan di raja ampat memang sangat banyak dan beragam mulai dari homestay sampai resort harganya masih terjangkau, tapi penjemputan dilakukan oleh pihak akomodasi, ini dia dimulainya kemahalan itu kalau kalian trip hanya bersedikit. Belum lagi biaya transportasi saat kamu mau Jalan - Jalan ke pulau lain, kalau kamu memang hanya mau di homestay dan snorkeling tiap paginya di depan kamar pastinya ga akan banyak keluar biaya. Tapi masak sudah jauh jauh ke Raja Ampat enggak ke wayag ? pianemo ? arborek ? . Semoga tulisan ini membantu kalian yang penasaran sama raja ampat ya, yuk ke raja ampat.
Bagan
Myanmar
Dari Mandalay kita melanjutkan perjalanan ke Bagan, untuk menghabiskan pergantian tahun di Bagan, karena pengen nyaman dan enak akhirnya memilih untuk tinggal di Kumudara Hotel. Sebelum akhirnya pindah ke guest house ( dormitory ) Dari Mandalay ga ada JJ Express bus dengan rute mandalay - bagan, jadi kita naik bus malam yang saya sendiri enggak tau namanya apa karena tulisannya keriting semua, Pokoknya JJ bus terbaik, bus yang saya tumpangi untuk sampai di Bagan, keadaannya jauh berbeda dari JJ Express, harga nya $ 8.50, selimutnya kayak selimut dirumah yang uda lama ga dipake,  entah uda dicuci apa belum ( ga bau sih, cuma penampilannya ga seindah selimut JJ express ). AC busnya dingin banget, dan yang paling ngeselin adalah kita diturunin ditengah jalan subuh-subuh, supir dan kernek tidak fasih berbahasa inggris, dikeadaan setengah ngantuk kita disuruh ambil tas kita di bagasi dan pindah ke mobil pick up terbuka yang sudah dimodifikasi dengan kursi yang memanjang seperti angkot. Bayangkan jam 2 pagi dingin sekali, naik mobil bak terbuka. Untungnya kita sudah punya tempat tinggal jadi bilang ke supir pick upnya nama hotel kita, karena ada beberapa orang ( wisatawan perancis ) yang belum booking penginapan. Sehingga dia pasrah aja ngikut kemana dibawa . Sampainya di penginapan ya molor semua itu receptionistnya  , itu jam 3 pagi. Tapi dia akhirnya melek juga pas bagian bayar bayar (DASARRR). Dari hotel sudah terlihat beberapa pagoda pagoda kecil , yang menarik dari hotel ini adalah view kolam renangnya, sarapan paginya juga enak enak . Kalau kalian ga menginap disini tapi mau berenang aja bisa lho, bayar $10 sudah dapet handuk, ya siapa tau bosen liat pagoda dan kepansan pengen berenang dan jacuzzi tapi apa daya tinggal di hostel . Pilihan untuk explore bagan : Electric Bike, Mobil, Sepeda atau Kuda . Karena bagan terbagi menjadi Old Bagan dan New Bagan dan saya sendiri memilih tinggal di New Bagan karena terpikat sama kumudara hotel, ternyata jaraknya tidak begitu jauh kalau naik ebike . Harga sewa ebike 10.000 kyat (harga hotel tapi enggak pernah gembos), 8000 kyat ( harga penyewaan pinggir jalan, tapi selalu kempes tiap hari, bahkan bisa sehari 2x) . Monk muda berjalan kaki ke sekolah . Tenang aja, jalan nya beraspal kok , tapi untuk jalan pintas, atau jalan menuju pagoda pastinya berpasir dan dipenuhi dedaunan. Kayak gini contohnya, kita nyasar uda liat pagodanya, tapi males muter nyari jalan besar, terpaksa kesabit-sabit dikit lah betis sama tangan. Untuk nama pagodanya, wadow saya nyerah dan minta maaf ga bisa jabarin satu persatu, tapi bakalan ngasi tau beberapa SPOT / PAGODA untuk ngeliat sunset / sunrise . Salah satu pagoda terbesar di Bagan. Disekitar pagoda dipenuhi penjual souvenir . Souvenir yang dijual digantung di pohon - pohon. Anak-anak pejual postcard yang sangat fasih berbahasa inggris dan mereka suka mengkoleksi mata uang dari berbagai negara, pas ngobrol mereka uda punya uang 100 perak ( lembaran) kita tambahin sama koleksi uang 2000 rupiah . Penemuan terbaik saat di Bagan adalah payung kertas itu, impian banget punya payung kayak gitu. Sensasi masuk pagoda saat panas-panas dan menginjakkan kaki di marmer, SEGEERRRR. Bulan December - January saya berkunjung ke Myanmar udaranya bener-bener bagus, bahkan kebanyakan hari yang kita habiskan disana kita ga pernah liat awan sama sekali. Gayanya kayak naik Alphard ya, padahal naik Ebike dan gembos terus tiap hari. Ada kejadian tepat setelah diambil foto ini , kita ke lokasi pagoda yang emang tidak terkenal tidak besar, atau tidak ramai, jarang ada orang kesana dan tiba - tiba ebikenya Gembos tanpa sisa dan keluar busa busa , sudah panik karena bingung mau gimana : sepi, ga punya simcard lokal untuk telefon nomer rental yang tertera di motor . Untungnya datanglah pasangan Myanmar yang bisa berbahasa inggris , mereka dari Yangon sedang berlibur dan pastinya punya simcard lokal, dengan baik hati dia telfonin lah si rental kasi tau posisi kita dimana, pasangan ini melanjutkan perjalanan, kita ngemper di pinggir jalan nunggu si abang rental dateng, pas dia dateng awalnya kita takut, waduh jangan2 dimarahin ini kita gembosin mungkin milih jalan yang asal - asalan ( dalam hati ) , ternyata dia datang dengan santainya bawa peralatan tambal sendiri, dan kita disuruh pindah ke ebike yang dia bawa . Ini dia tempat bersejarah dimana pengalaman ebike itu gembos untuk pertama kalinya. Salah satu pagoda yang "bersinar" di Bagan, seperti di Mandalay dan Yangon. Hari kesekian uda males gaya gaya an bajunya juga uda abis sih , kayak loper koran ya ... Menyempatkan diri ke pasar Babi babi lagi tidur siang, oh enaknyaaaaa Salah satu pagoda dengan view yang oke Payung andalan. Oke sekarang saatnya membahas sunrise dan sunset karena kedua itu penting dilakukan dan diabadikan di Bagan. Menikmati sunrise dari ketinggian dengan balon udara pastinya memiliki daya tarik tersendiri, apalagi ini jatuh di tanggal 1 january 2017, Yep saya menghabiskan pergantian tahun di Bagan. Tepat satu tahun yang lalu saya juga merayakan sunrise 2016 pertama dengan naik balon udara di Capaddocia, Turkey, bukan sombong tapi mau membandingkan harga naik balon udara di Bagan, jauh lebih mahal, kalau dirupiahkan bisa sampai 5 juta / orang. Jadi tahun 2017 ini saya hanya menikmati dari bawah saja balon udara melintas . Kenapa bisa mahal ? berbeda dengan di cappadocia dengan banyaknya operator balon udara mereka bersaing mematok harga. Sedangkan di Bagan hanya ada 2 operator saja. Karena ini lagi liburan dan saya sangat males bangun pagi , jadi selama disana saya hanya melihat sunrise 1x saja ( kadang kalau terlalu banyak tidak bagus ) .. ini pembelaan .. Pagi itu kita maunya sunrise di Shwesandaw Pagoda super ramai dan akhirnya memutuskan untuk ke Lawkaoushang Temple dan ternyata super sepi, bandingakn hanya segini orangnya dibandingkan Shwensandaw yang super padet . Kalau nyari sendiri ya agak susah, kalau naik kuda atau mobil tinggal bilang ke supirnya . Rekomen deh kesini pas sunrise atau sunset . Karena super mager jadinya cuma tau satu temple ini aja yang ga ramai . Tapi hasil ngobrol - ngobrol sama orang lain katanya pagoda ini bagus juga dan tidak begitu ramai : Bhuleti , Gawdawpalin, North Guni Temple . Selamat mencari para pengejar matahari. Sunset lebih ramai, karena banyak orang malas bangun pagi kah  ? hehe Sunset dari Lawkaoushang Temple . Kalau malas berdesak - desakan di temple mungkin opsi lain adalah menikmati sunset dengan naik sapi. Karena terjadi gempa di Bagan beberapa tahun yang lalu banyak temple yang ditutup akses untuk melihat sunrise / sunset . Bayangkan bangunan begitu tua harus menopang banyaknya orang yang mau melihat sunrise / sunset . Naik Ebike dibelakang sapi - sapi ini . Secara random menemukan bukit ini , viewnya bagus juga . Kita datang dari arah Bagan Golf Course yang akhirnya tidak sengaja menemukan tempat ini . Dibandingkan sunrise, kita selalu tidak pernah ketinggalan sunset setiap harinya selalu mencari tempat - tempat untuk menghabiskan waktu menunggu matahari terbenam . Hari terakhirnya sebelum malam hari kita kembali ke Yangon kita ditabrak anak kecil, wah sial .. malam ini bakal naik bus 10 jam lebih ke Yangon , sesampainya di Yangon langsung flight ke Kuala Lumpur , bisa dibayangkan jauh nya perjalanan yang harus kita tempuh dengan keadaan "habis tertabrak" . Untungnya masih bisa jalan sih, waktu kejadian saya pakai celana panjang hijau ( yang kayak loper koran diatas) . Pas ke kamar mandi saya buka ternyat itu dengkul saya lebam semua, UNGU. Dikompres kompres pake air dingin biar ga bengkak, untungnya malam hari saat di bus . Tidak senut senut parah dan saya bisa tidur pulas sampai di Yangon . Ini sungai bukan Infinity Pool . Setelah saya sampai di Bali saya baru mikir - mikir sendiri. Ya ampun apa kejadian terakhir itu karna kualat ya ? Kualat Kenapa ? hmmmm yang sabar ya mungkin ini sedikit panjang ceritanya ..... Kalau mengingat tulisan di paling atas yang menjelaskan kronologi waktu kedatangan di Bagan yaitu subuh, pihak hotel lagi ngantuk - ngantuknya . Ga sempet kasi tau perihal keharusan membeli tiket masuk kawasan Bagan . Namanya Bagan archeological entrance seharga 25.000 kyat/orang. Kita juga hari pertama dan kedua , selalu aman - aman saja keluar masuk pagoda yang besar atau kecil ga pernah ditanya tiket. Sampailah dihari ketiga kita ke salah satu Pagoda dan ditanya tiket . Awalnya kita kebingungan tapi akhirnya kita ngeh, "oh ya seperti di Mandalay" . Tapi keselnya kenapa baru sekarang kita tahu ? yang notabe nya kita akan pulang besok ! Huft, yauda akal - akalan aja kita bilang enggak bawa uang segitu dan diperbolehin masuk dengan syarat musti segera beli tiket ya kalau sudah ke ATM . Kejadian kedua saat sunrise kita mau liat sunrise dari pagoda yang lumayan besar dan pemeriksaannya terlebih - lebih ketat, dari situlah kita memutuskan untuk ke pagoda yang lebih kecil dan sepi yang pastinya tidak ada pemeriksaan dan kita selalu lolos pemeriksaan sampai hari terakhir, TAPI ya itu kualatnya kali ya kita di tabrak bocah SMP . Ebike vs Motor Bergigi, mana dia kabur lagi abis nabrak ....... sial ........ makanya kapok deh. Semoga kalian yang baca tulisan ini kalau mau ke Bagan tidak meniru apa yang saya lakukan. Maaf ya bagan , aku kembali lagi deh nanti ( bayar ) .
Mandalay
Myanmar
Setelah Yangon tujuan selanjutnya adalah Mandalay. Menempuh waktu kurang lebih 7  jam perjalanan kita pilih jam malam untuk berangkat supaya menghemat biaya akomodasi. Tiket kita beli di website ini. Kita pilih bus JJ Express, sangat teramat merekomendasikan memilih JJ Express bus, kursinya nyaman banget, bisa charge , biarpun ini pilihan bus yang normal bukan VIP bagian kaki tetap bisa dinaikan. Untuk harga bisa dilihat langsung di website yang di share diatas ya , yang diperlukan hanya kartu kredit untuk pemesanan, webnya juga cukup praktis. Sesampainya di Mandalay bus station kita sama sekali belum booking penginapan, jadi kita bertemu salah seorang supir taxi yang sangat fasih berbahasa inggris dengan aksen yang luar biasa , sangat membantu kita karena dia ajak kita keliling mencari penginapan, kita bilang budget kita 30.000 kyat / hari untuk penginapan, beberapa guest house di datangi ternyata full. Masih keliling kota mencari, kita tanya harga dan melihat kamarnya, belum sreg berganti tempat lagi sampai akhirnya menemukan Royal Guest House untuk lokasi dan harga langsung di klik aja ya linknya. Keuntungan dari perjalanan malam adalah sesampainya di kota tujuan kita sudah bisa langsung explore tempat tersebut,  tidak usah menunggu jam check in karena kita langsung datang dan meminta kamar yang available juga saat itu . Tempat pertama yang kita datangi adalah Mandalay Palace, hmmm lumayan ribet masuk kesini ternyata kirain bakal gimana dalemnya karena kita harus ninggalin passport dan pakai ID taunya dalemnya ya biasa aja, jalannya juga jauh sekali, kalau mau kesini disarankan naik ojeg / taxi / bawa kendaraan sendiri, masuknya jauh dalemnya ga worth it ( menurut aku pribadi ) . Kita diharuskan membayar 10.000 kyat saat masuk dan tiket itu bisa digunakan juga selama 5 hari di mandalay untuk mengunjungi beberapa tempat / pagoda di Mandalay . salah satu sudut di mandalay palace Sandamuni Pagoda, biarpun masuk di dalam list tempat yang harus masuk menggunakan atau menunjukan tiket terusan yang kita beli seharga 10.000 kyat tapi saat itu tidak ada pemeriksaan apapun . Salah satu pagoda favorite yang ada di dalam kota Mandalay. Setiap batu terdapat nisan yang bertuliskan ajaran budha, seperti buku bentuknya , dan terdapat kurang lebih 1000 batu di dalam pagoda ini, kalau dilihat dari atas menggunakan drone baru kelihatan banyaknya Yang dipakai dimuka mereka itu adalah komestik tradisional myanmar namanya Thanaka. Terbuat dari kulit kayu atau akar pohon yang proses pembuatannya seperti nguleg sambel. Style pengaplikasiannya juga bermacam - macam ada yang bulet di pipi, kotak di pipi, satu muka full, bentuk daun dll. Kyauktawgi pagoda, letaknya berdekatan dengan Sandamuni pagoda. Karena saking lelahnya hari itu hal yang paling saya sesalkan adalah tidak menyempatkan diri ke Mandalay Hill, karena setelah mengunjungi 2 pagoda diatas kita berjalan kaki ( lumayan jauh ) ke pintu masuk palace yang ternyata dalemnya sangat biasa . Sudah keburu sunset dan saya pun sudah terlalu capek hari itu dan akhirnya memutuskan keesokan harinya untuk sewa taxi seharian untuk pergi keliling mandalay yang jaraknya jauh dari kota. Taxi yang kita sewa adalah taxi yang pertama mengantar kita mencari guest house di Mandalay, jadi kita dapat harga 32.000 kyat untuk 2 orang, berkeliling mandalay sampai sunset dan langsung diantar ke Bus Station. Pagi di jemput di Guest House kita sarapan dan langsung check out , barang bawaan semua sudah kita bawa di taxi dan siap diantar kesana kemari seharian , tau beres dan sampai : Mahamuni Pagoda , Tempat berziarah umat buddha, rakyat myanmar percaya bahwa patung buddha yang terdapat di dalam pagoda ini memiliki wajah yang paling mirip dengan aslinya. Sayang sekali perempuan tidak diperbolehkan masuk kedalam kuil yang berisikan patung tersebut hanya bisa melihat dari luar saja . Di samping kuil yang berisikan patung buddha mahamuni terdapat patung yang dipercaya bisa menyembuhkan, dengan menyentuh bagian tubuh patung. Supir taxi yang mengantar saya tidak berlaku sebagai guide, jadi memang hanya khusus mengantar saja, informasi yang saya tulis diatas saya dapatkan karena nguping penjelasan guide lain , hehe . Terdapat pula gallery berisikan lukisan sejarah buddha Maha Gandaryon Monastry , tujuan selanjutnya dari tour taxi kita adalah melihat para biksu muda antre menuju tempat makan mereka untuk makan siang. Awalnya saya penasaran ingin melihat langsung kawasan tersebut dan bagaimana mereka di lingkungan monastry, tetapi sesampainya saya disana, saya merasa kasian karena turis sangat ramai dan setiap hari mereka jadi tontonan hanya untuk antre makan siang . Puluhan camera mengabadikan momen ini setiap harinya . U thonze, sudah berapa pagoda yang kita kunjungi selama di Myanmar ? tidak terhitung. Setiap kali memasuki kawasan suci / pagoda sudah otomatis harus buka alas kaki ( kaos kaki juga harus dibuka) . Berpakaian yang sopan , jadi otomatis selama di Myanmar jarang sekali atau hampir tidak pernah melihat wanita yang pahanya kelihatan , mungkin di Thailand selalu ada tempat untuk meminjamkan kain / sarung untuk memasuki kawasan seperti ini , tapi tidak di Myanmar. Turis sudah sangat sadar bahwa wisatanya memang religi disini ( maksudnya mengunjungi tempat - tempat suci ) . Terdapat 45 patung berjejer dengan posisi seperti di foto ini . Soon Oo Pon Nya Shin Pagoda, menjadi  yang terfavorite karena letaknya diatas bukit dengan pemandangan sungai dan lantainya yang berwarna warni . Biarpun udara panas tapi sensasi menginjikan kaki di lantai saat masuk ke dalam pagoda selalu teringat sampai sekarang, dingin dan seger rasanya ( kayak mint ) . masih dengan taxi tour, setelah makan siang kita di beri waktu kurang lebih 2 jam untuk explore Inwa Village , nyebrang dari tempat kita makan siang kurang lebih 7 menit jaraknya . Sejak sampai di Myanmar tepatnya di Yangon , tidak sekalipun ada orang yang berbohong mengenai harga padahal ini kesempatan emas kebanyakan orang pakai untuk bohong - bohongin turis, tapi ga di myanmar kalau mereka nawarin naik kuda bilang jauh memang beneran jauh, kalau harganya 10.000 ya bakalan 10.000 terus sampai semua orang kamu tanya . Ya tapi di Inwa ini kita tawar deh jadi 8000 kyat dengan syarat kita jalan kaki dulu sedikit nanti dia menyusul menjemput, cara yang aneh demi potongan harga. Bener bener seru keliling Inwa pakai kuda Pakai lagi , lepas lagi, pakai lagi , lepas lagi sepatunya Tujuan terakahir dari taxi tour adalah Sunset di U bridge, bener bener deh buat kalian yang suka fotografi pasti suka sekali di myanmar . Jembatan kayu terpanjang didunia katanya, beneran ? 1,2 km panjangnya Setelah menikmati sunset kita makan Mohinga, mie kuah (bihun sih lebih pasnya) dengan ikan dan telur, rasanya kayak soto hahaha, menarik. Setelah makan kita langsung diantar ke Bus Station dan menunggu Bus malam untuk menuju ke kota selanjutnya , Bagan . Selama di Mandalay di guest house wifinya kurang bagus susah sekali untuk browsing, kalau di cafe atau restaurant yang kita datengi kebetulan juga tidak ada wifinya , jadilah agak minim info. Sebelumnya tidak ada research apa apa, kebanyakan turis bule sih lebih memilih menggunakan lonely planet daripada browsing. jadi kita terselamatkan sama tour taxi. Meskipun ada beberapa tempat yang ternyata dekat sama tempat menginap terlewatkan, jadi kalau kalian memang dirasa perlu internet, beli nomor lokal dan paket internet bisa membantu, buat saya pribadi lumayan internet detox selama liburan ini.
Yangon
Myanmar
Mengapa pilih myanmar sebagai destinasi yang dikunjungi ? jawabannya karena belum pernah. Penasaran pengen tau seperti apa sih myanmar, negara yang baru membuka diri pada dunia beberapa tahun belakangan, cambodia dan laos sudah mencuri hati saya dalam kunjungan beberapa tahun lalu, vietnam masih ada yang kurang dari kunjungan singkat waktu itu sehingga perlu kembali lagi lain waktu sekarang saatnya explore myanmar. Dengan pesawat airasia dari Denpasar, transit di Kuala Lumpur kita mendarat di Yangon . Perlu diketahui bahwa sekarang passport hijau kita bebas visa untuk mengunjungi myanmar maksimal 14 hari, tapi untuk berjaga - jaga lebih baik siapkan bukti bahwa kalian bakal keluar dari myanmar sebelum 14 hari, siapa tau pas mau cap imigrasi ditanya, meskipun waktu itu kita tidak ditanya sama sekali. Mata Uang : kyat, mereka juga sangat welcome sama USD . Tapi saran saya sih kalian bawa USD dan ditukar secukupnya ke kyat saat mendarat di bandara Yangon, ratenya bagus. How to get to the city of Yangon : Taxi dari bandara ke daerah kota memakan waktu 45 menit ( kalau lancar ) yangon macet juga ternyata , harganya 8000 Kyat. Sampainya di bandara sudah dipenuhi laki - laki bersarung seperti difoto atas, ternyata budaya disini lelakinya memang menggunakan Longyi. Jadi memang jarang sekali melihat laki laki pakai celana. Transportasi selama di Yangon : karena tidak ada sepeda motor di kota yangon , hanya polisi aja yang pakai sepeda motor jadi kita ga bisa sewa motor untuk explore yangon dan bus nya juga susah, rada ngebingungin ( seperti kopaja / metromini di jakarta ) turun naik bisa dimana aja ( ga selalu di halte), jurusan entah kemana, kalau pun ada tulisan di bus pakai tulisan myanmar yang bulet bulet itu, jadi sangat tidak disarankan, mending pakai taxi kemana - mana atau jalan kaki. Taxinya juga tidak terlalu mahal, bisa nawar, tapi kebanyakan taxinya emang ga pake AC . Untuk style wanitanya juga sama, mereka lebih nyaman sepertinya menggunkan pakaian tradisional. Dalam perjalanan dari airport menuju kota saya perhatikan wanita wanita di yangon ini badan nya kecil kecil semua kurus seperti korek api, jarang lihat yang berisi, laki - laki atau perempuan kebanyakan juga menenteng rantang (mungkin untuk makan siang ditempat kerja). Menarik dan ternyata baru saya sadari taxi yang saya tumpangi berjalan di arah kanan , kalau di Indonesia kita bawa mobil kan dikiri jalan, nah yang lebih menarik lagi ada beberapa mobil yang setirnya di kiri. Kita memang belum memiliki akomodasi setibanya disana sehingga supir taxi kita beri arahan untuk drop kita di dekat Sule Pagoda, Dengan segala kosotoyan dan minimnya info kita pokoknya bakal cari akomodasi sedapetnya, Lokasi kita di drop off sama supir taxi ternyata pusat kertas / percetakan. Langsung kegirangan karena ngeliat sample sample undangan , letter timbul, paper bag dan packaging. Muter kesana kemari nemu guest house yang harganya 30.000 kyat ga pake AC , kipaspun ga ada, wah salah tempat kayaknya, sambil terus gerek koper kecil terus muter muterin daerah itu sampai akhirnya nemu 30 Corner Boutique Hostel . Kurang ajar hostel yang bagus aja harganya lebih murah dari guest house yang pertama kita datengin, jadi moral ceritanya adalah Jangan Menyerah. Bangunan disekitar hostel, nemunya ga sengaja eh ternyata deket kemana mana. Terutama Bogyoke Market, tinggal jalan kaki. Makanan pinggir jalanpun banyak. Seperti nasi campurnya, harga mulai dari 1000 kyat . Makanan di restonya harga mulai dari 3000 kyat. Karena hari hari pertama males belanja jadi sama sekali ga beli apa apa di Bogyoke Market. Belakangan baru nyesel karena ternyata setelah ke mandalay dan bagan di bogyoke market yangon ini paling banyak pilihan, bagus bagus dan lebih murah. Bangunan bergaya colonial banyak dijumpai disekitaran sule pagoda. Shwedagon Pagoda, wajib dikunjungi karena sangat sangat indah dan merupakan salah satu pagoda yang paling besar dan sakral di myanmar. Harga tiket masuk 8000 kyat. Kita diharuskan untuk melepas alas kaki (kaos kakipun harus lepas) sedari kita memasuki kawasan pagoda. Karena ini merupakan kali pertama masuk ke pagoda di Myanmar saya pun bingung karena dimintai uang sumbangan untuk plastik tempat sepatu yang disediakan di pintu masuk pagoda, ternyata kalau kita ga pake plastik dan mau nenteng sepatu kita juga ga masalah. Disarankan menyediakan kantong plastik untuk menaruh sepatu karena semua pagoda tidak memperkenakan menggunakan alas kaki dan tidak semua pagoda memiliki tempat / rak sepatu . Menginjakan kaki di lantai marmer dicuaca yang panas rasanya seperti minum air es di gurun, sejuk sekali kaki ini dibuatnya . saking silaunya karena pantulan warna emas pada pagoda dan warna putih dari lantai marmer bikin kacamata menjadi barang yang wajib dibawa saat mengunjungi pagoda . Biksu biksu perempuan menggunakan kain berwarna pink . Saya sendiri tidak tahu perbedaan warna kain yang dipakai kadang melihat ada yang memakai warna merah , kadang orange . Mungkin ada yang tahu ? Sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi pagoda ini sore hari menjelang malam, saat matahari sudah terbenam . Tapi ada daya jam di smartphone saya lupa disetting menjadi automatic sehingga saya pun tidak sadar bahwa jam di Myanmar 1 jam 30 menit di belakang Bali. Alhasil saya yang sudah berangkat pukul 5 sore menuju pagoda ini masih aja dapat sinar matahari. Dibodohi smartphone hahaha ... baru sadar ketika kembali ke hostel dan akan berangkat ke Bus station, kenapa masih jam 5 di hostel ? bukannya tadi berangkat jam 5 juga ? ASTAGAAAA kecepetan jamnya ternyata . Selanjutnya kita berpindah ke Mandalay, dari Yangon menggunakan Bus yang kita booking online. Cerita selanjutnya akan diposting beberapa minggu kedepan. Buat kalian yang mau ke Myanmar dalam waktu dekat bisa hubungi saya via email karena saya ada beberapa sisa uang Kyat yang jumlahnya lumayan, sayang sekali ga sempat tukerin waktu itu dan tidak ada money changer yang terima kyat disini , jadi tolong ya kalau ada yang mau ke Myanmar dan butuh uang kyat bisa hubungi saya.